Hegemoni adalah dominasi kelompok
penindas terhadap komunitas yang ditindas. Hegemoni secara konotatif
tidak selalu berarti penjajah dan dijajah. Yang jelas, pada tiap tatanan
sistem sosial yang hegemonik, ada variabel kekuatan kelompok penguasa
yang lebih dominan dan mendeterminasi kekuatan kelompok yang dikuasai.ontinue reading
Kelas penguasa, dalam sistem hegemonik
bukanlah selalu dirujukkan pada negara, militer, pemuka agama, pemodal
besar, atau variabel yang identik dengan semangat kapitalisme dan
militerisme. Kelas penguasa dapat mewujudkan dirinya dalam berbagai
bentuk, status, peran, dan atribut sosial yang sangat variatif
tergantung konteks dimana hegemoni dipakai sebagai konsep analisis.
ketika mendengar istilah ”hegemonik”,
maka pikiran kita akan melayang menuju sebuah imajinasi kondisi dimana
ada sekelompok orang menjadikan kelompok lainnya sebagai ”binatang
piaraan” yang wajib diperah. Kenikmatan berlimpah-ruah menjadi milik
abadi dari kelompok penguasa, sedangkan kesengsaraan menjadi kutukan
hidup yang disandang oleh kelompok terkuasa.
Mengkaji Kembali
Sekedar memperjelas orientasi
konseptual, imajinasi yang muncul ketika mendengar terminologi
”hegemonik” sebagaimana diatas adalah salah besar. Tidak ada yang
namanya ”sarkasme” penindasan secara riil terjadi dalam dunia hegemonik.
Tidak ada pertumpahan darah, pembinatangan, pembodohan, dan segala
bentuk yang menjadi lawan dari kemanusiaan dalam hegemonik. Jadi,
anggapan bahwa dalam dunia hegemonik yang terjadi adalah sebagaimana
cerita penindasan Umayyah bin Khalaf atas Bilal bin Rabah, adalah salah.
Dalam sistem seperti ini, dengan
kesadaran rasional yang sangat mutlak, kelompok tertindas memahami bahwa
cita-cita dari kelompok penindas juga merupakan impian mereka. Yang
diidamkan oleh kelompok penindas, adalah juga tujuan dari kelompok
tertindas. Penguasaan dalam sistem hegemonik tidak dilakukan dengan
kekerasan secara represif, namun melalui kiat-kiat persuasif yang
menyentuh aspek kesadaran kolektif. Penjelasan persuasif ini, walaupun
berisi kebusukan kepentingan yang sengaja disembunyikan dan
ditutup-tutupi, pada akhirnya tetap menjadi deskripsi nalar yang sangat
rasional dan patut diperjuangkan, terutama oleh kelas tertindas.
Deskripsi nalar yang berupaya
merasionalkan kepentingan penguasa, biasanya didukung dengan
kaitan-kaitan ideologis, nilai-nilai komunal, sentiman rasial,
kepentingan makrokosmik yang terkadang utopis, dan bahkan dibungkus
dengan doktrin agama dan budaya yang dianggap profan oleh kelompok
terkuasai. Maka jadilah deskripsi nalar tersebut sebagai ”titah suci”
yang harus diperjuangkan oleh yang tertindas.
Siapa Menguasai Siapa
Kebanyakan, kelompok mahasiswa yang
masih berstatus ”yunior” kerap kali sowan kepada orang mereka anggap
lebih ”senior”. Senior adalah yang dianggap memiliki ”kelebihan”
dibanding yunior. Kelebihan tersebut dapat dilihat dari variabel usia,
pengalaman, ilmu, profesi, atau status sosial yang dimiliki oleh senior
tersebut.
Umumnya, yunior menghadap senior untuk
mendiskusikan persoalan yang sedang atau akan dihadapinya. Tema diskusi
tersebut dapat menyentuh aspek apapun juga, mulai dari ruwetnya
mengorganisir kader, pendanaan organisasi, wacana, politik, nasib hidup,
rival, dan bahkan persoalan pacar atau ”amunisi hidup”. Senior yang
mampu ”membantu” atau ”melayani” diskusi dari yunior, cenderung akan
menjadi rujukan dan relatif sering dikunjungi oleh yuniornya. Yunior
akan berpikir bahwa separuh problem yang dihadapinya telah usai ketika
puas mendapatkan ”layanan konsultasi” dari seniornya.
Senior seperti ini, akan menjadi patron
dan yunior akan menjadi klien. Dalam pola relasi patron-klien, sangat
mungkin klien akan meniru patron tanpa ada dasar penjelasan rasional
sebelumnya. Yang ditiru oleh yunior tidak hanya ”manhaj al fikr”
senior semata, namun juga pada persoalan atribut dan gaya hidup senior
yang dikaguminya. Maka tidak heran jika banyak dijumpai yunior yang
berpenampilan dan menyandang atribut-atribut fisik layaknya yang
seniornya sandang, dari model pakaian, gaya rambut, gelang, sampai pada
ranah gesture yang diwujudkan dalam tingkah laku sehari-hari.
Pada kondisi yang ekstrim, yunior akan
meyakini –tanpa harus mengimani layaknya rukun iman—tentang segala apa
yang keluar dari ide seniornya. Ucapan senior adalah titah bagi yunior.
Tindakan senior adalah ”sunnah” yang berpahala ketika ditirukan.
Kepentingan pribadi senior adalah cita-cita suci yang harus
diperjuangkan. Dan bahkan, seandainya senior salah, maka kesalahan itu
menjadi kebenaran dan memiliki tempatnya tersendiri dalam sistim logika
yunior. Pada level ini, sudah tidak berlaku lagi dialog akademis dan
proporsional dalam relasi senior-yunior. Hegemonilah yang sedang
berlangsung.
Bagaimana jika senior memiliki
kepentingan yang sifatnya pribadi dan menggunakan ”kekuasaan hegemonik”
yang dimilikinya pada para yunior agar ia lebih mudah meraih kepentingan
itu? Siapa yang dapat menjamin bahwa senior itu makhluk
nir-kepentingan? Apa yang menjadi pemisah antara ”petuah” yang didasari
kepentingan pribadi, dan ”petuah” yang lahir dari pengabdian murni
seorang senior pada yuniornya? Darimana yunior tahu jika ia tidak
dimanfaatkan oleh seniornya? Tidak ada jawaban pasti atas
pertanyaan-pertanyaan tersebut.
Pastinya, kultur hegemonik hanya dapat
melahirkan KEJUMUDAN, dan sekali-kali tidak akan pernah membawa
PENCERAHAN, terutama pada yunior. Pilihan ada pada kita semua.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar