Sabtu, 04 Mei 2013

HEGEMONI

Hegemoni adalah dominasi kelompok penindas terhadap komunitas yang ditindas. Hegemoni secara konotatif tidak selalu berarti penjajah dan dijajah. Yang jelas, pada tiap tatanan sistem sosial yang hegemonik, ada variabel kekuatan kelompok penguasa yang lebih dominan dan mendeterminasi kekuatan kelompok yang dikuasai.ontinue reading
Kelas penguasa, dalam sistem hegemonik bukanlah selalu dirujukkan pada negara, militer, pemuka agama, pemodal besar, atau variabel yang identik dengan semangat kapitalisme dan militerisme. Kelas penguasa dapat mewujudkan dirinya dalam berbagai bentuk, status, peran, dan atribut sosial yang sangat variatif tergantung konteks dimana hegemoni dipakai sebagai konsep analisis.
ketika mendengar istilah ”hegemonik”, maka pikiran kita akan melayang menuju sebuah imajinasi kondisi dimana ada sekelompok orang menjadikan kelompok lainnya sebagai ”binatang piaraan” yang wajib diperah. Kenikmatan berlimpah-ruah menjadi milik abadi dari kelompok penguasa, sedangkan kesengsaraan menjadi kutukan hidup yang disandang oleh kelompok terkuasa.
Mengkaji Kembali
Sekedar memperjelas orientasi konseptual, imajinasi yang muncul ketika mendengar terminologi ”hegemonik” sebagaimana diatas adalah salah besar. Tidak ada yang namanya ”sarkasme” penindasan secara riil terjadi dalam dunia hegemonik. Tidak ada pertumpahan darah, pembinatangan, pembodohan, dan segala bentuk yang menjadi lawan dari kemanusiaan dalam hegemonik. Jadi, anggapan bahwa dalam dunia hegemonik yang terjadi adalah sebagaimana cerita penindasan Umayyah bin Khalaf atas Bilal bin Rabah, adalah salah.
Dalam sistem seperti ini, dengan kesadaran rasional yang sangat mutlak, kelompok tertindas memahami bahwa cita-cita dari kelompok penindas juga merupakan impian mereka. Yang diidamkan oleh kelompok penindas, adalah juga tujuan dari kelompok tertindas. Penguasaan dalam sistem hegemonik tidak dilakukan dengan kekerasan secara represif, namun melalui kiat-kiat persuasif yang menyentuh aspek kesadaran kolektif. Penjelasan persuasif ini, walaupun berisi kebusukan kepentingan yang sengaja disembunyikan dan ditutup-tutupi,  pada akhirnya tetap menjadi deskripsi nalar yang sangat rasional dan patut diperjuangkan, terutama oleh kelas tertindas.
Deskripsi nalar yang berupaya merasionalkan kepentingan penguasa, biasanya didukung dengan kaitan-kaitan ideologis, nilai-nilai komunal, sentiman rasial, kepentingan makrokosmik yang terkadang utopis, dan bahkan dibungkus dengan doktrin agama dan budaya yang dianggap profan oleh kelompok terkuasai. Maka jadilah deskripsi nalar tersebut sebagai ”titah suci” yang harus diperjuangkan oleh yang tertindas.
Siapa Menguasai Siapa
Kebanyakan, kelompok mahasiswa yang masih berstatus ”yunior” kerap kali sowan kepada orang mereka anggap lebih ”senior”. Senior adalah yang dianggap memiliki ”kelebihan” dibanding yunior. Kelebihan tersebut dapat dilihat dari variabel usia, pengalaman, ilmu, profesi, atau status sosial yang dimiliki oleh senior tersebut.
Umumnya, yunior menghadap senior untuk mendiskusikan persoalan yang sedang atau akan dihadapinya. Tema diskusi tersebut dapat menyentuh aspek apapun juga, mulai dari ruwetnya mengorganisir kader, pendanaan organisasi, wacana, politik, nasib hidup, rival, dan bahkan persoalan pacar atau ”amunisi hidup”. Senior yang mampu ”membantu” atau ”melayani” diskusi dari yunior, cenderung akan menjadi rujukan dan relatif sering dikunjungi oleh yuniornya. Yunior akan berpikir bahwa separuh problem yang dihadapinya telah usai ketika puas mendapatkan ”layanan konsultasi” dari seniornya.
Senior seperti ini, akan menjadi patron dan yunior akan menjadi klien. Dalam pola relasi patron-klien, sangat mungkin klien akan meniru patron tanpa ada dasar penjelasan rasional sebelumnya. Yang ditiru oleh yunior tidak hanya ”manhaj al fikr” senior semata, namun juga pada persoalan atribut dan gaya hidup senior yang dikaguminya. Maka tidak heran jika banyak dijumpai yunior yang berpenampilan dan menyandang atribut-atribut fisik layaknya yang seniornya sandang, dari model pakaian, gaya rambut, gelang, sampai pada ranah gesture yang diwujudkan dalam tingkah laku sehari-hari.
Pada kondisi yang ekstrim, yunior akan meyakini –tanpa harus mengimani layaknya rukun iman—tentang segala apa yang keluar dari ide seniornya. Ucapan senior adalah titah bagi yunior. Tindakan senior adalah ”sunnah” yang berpahala ketika ditirukan. Kepentingan pribadi senior adalah cita-cita suci yang harus diperjuangkan. Dan bahkan, seandainya senior salah, maka kesalahan itu menjadi kebenaran dan memiliki tempatnya tersendiri dalam sistim logika yunior. Pada level ini, sudah tidak berlaku lagi dialog akademis dan proporsional dalam relasi senior-yunior. Hegemonilah yang sedang berlangsung.
Bagaimana jika senior memiliki kepentingan yang sifatnya pribadi dan menggunakan ”kekuasaan hegemonik” yang dimilikinya pada para yunior agar ia lebih mudah meraih kepentingan itu? Siapa yang dapat menjamin bahwa senior itu makhluk nir-kepentingan? Apa yang menjadi pemisah antara ”petuah” yang didasari kepentingan pribadi, dan ”petuah” yang lahir dari pengabdian murni seorang senior pada yuniornya? Darimana yunior tahu jika ia tidak dimanfaatkan oleh seniornya? Tidak ada jawaban pasti atas pertanyaan-pertanyaan tersebut.
Pastinya, kultur hegemonik hanya dapat melahirkan KEJUMUDAN, dan sekali-kali tidak akan pernah membawa PENCERAHAN, terutama pada yunior. Pilihan ada pada kita semua.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar